Langsung ke konten utama

Sad Story

 Sabtu ini, ku kira akan ada sinar baru yang mewarnai sudut hatiku. Aku bertemu denganmu dengan seutuhnya perasaan terbaikku. Kamu bertanya ke mana arah perjalanan kita berlabuh. Aku pun tak tahu, biarkan angin yang membawa kita jauh berkelana. Perjalanan demi perjalanan usai, langkah kita terhenti pada jejeran bakau di tepi pantai. Kita berjalan menyusuri setapak yang di sisi kiri dan kanan hanya berjumpa dengan hewan-hewan kecil penghuni tumbuhan bakau. Tawa renyah masih terukir di bibir manis kita, hingga tak terasa perjalanan mengantarkan langkah kita di ujung pintu. Kita makan dan bercengkerama hampir 30 menit lamanya. Ada yang ingin ku ceritakan padamu, aku senang dengan pertemuan kita. Aku bisa meluapkan seluruh ocehanku yang melebihi kicauan pipit di pagi hari. 


Waktu mengantarkan kita pada pukul satu siang. Tepat di sekitar rentetan bakau, kita temui tempat peristirahatan yang menyerukan. Ada tempat pemancingan ikan disana. Entah ini yang kesekian kalinya aku mengajakmu masuk dalam duniaku yang konyol. Aku selalu ingin mencoba hal baru yang belum pernah ku lakukan sebelumnya. Ya meskipun setelah mencoba, ada beribuh kata mengeluh yang meluap. Tapi aku senang, aku mencoba hal itu denganmu. Sekali dua kali kita berusaha mengail ikan, berharap ada setidaknya satu ikan yang lahap dengan masakanku. Masakan instan maksudnya.... yang ku beli bersamaan dengan sewa alat pemancingnya.


Sampai tiba kita di perjalanan lagi, aku meminta untuk menepi sambil meminum segelas es yang dijajakan oleh Abang pinggir jalan, dengan 4 potong gorengan yang katamu lumayan lezat. Ingin rasanya berlama disitu, sembari menatap orang berlalu-lalang. Namun langit sepertinya tak merestui hadir kita, hujan menetes satu persatu, tak berirama. Awalnya mencoba untuk berkawan dengan hujan, ternyata tubuhku menolak akan dinginnya tetes air yang jatuh. Kita menepi untuk memakai sebuah jas hujan ponco berwarna hijau yang sedikit robek di bagian punggung. Tepat sekali, bagi sebagian orang mungkin akan merasakan kesakitan harus menunduk sepanjang jalan. Riani hujan yang semakin lebat terus menghantam punggung bagian belakangku, angin membawa jas hujan itu beterbangan di atas helm yang ku pakai. Celana dan sepatuku, jangan ditanya, dia sudah mandi air sejak hujan sudah tidak bersahabat denganku. Muka ku murung sepanjang jalan, aku murung dengan keadaanku, yang harus menahan sakitnya leher, dinginnya hujan, dan entah beberapa alasan pendukung lainnya. Tidak sepenuhnya salahmu, hanya saja akhir akhir ini aku kurang bisa mengontrol emosiku. Dia meluap tanpa aku minta dan susah untuk dicegah.


Pukul 15.00, di rumahmu. Tubuhku sudah seperti es batu yang leleh hingga menjadi sepenuhnya air. Kamu memberiku sepasang baju milikmu. Namun apalah artinya cover yang baru, apabila di dalamnya tidak sehangat cover itu. Aku tertidur di dalam kedinginan, sekali lagi terima kasih atas sikap manismu. Teh hangat dan sebuah selimut yang kamu bawa cukup menghangatkan badanku. Tapi tidak dengan perasaanku, yang sudah kesal dengan keadaaan sebelumnya, dengan hujan yang tiba tiba datang, juga dengan temanya si jas hujan hijau itu. 


Akhirnya, ku memutuskan untuk pulang agar bisa beristirahat. Aku tahu perubahan moodmu yang kacau setelah permintaanku terucap. Kamu selalu merasa kurang akan waktumu bersamaku. Lantas yang kita lakukan tadi apa hanya sebatas angin lalu bagimu. Sebelum pulang, aku mencoba untuk menaikkan moodmu, dengan memakan seporsi bakso yang bisa melahirkan tanpa sesar, Iya Bakso beranak yang ku pilih dan kamu tetap sama dengan pilihanmu. Sesaat melahap hidangan itu, kamu melontarkan kalimat yang seketika membuatku terdiam, kamu berkata kita sudah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu diakhiri dengan permintaanku yang meminta pulang. Aku tertegun, apa kamu tidak melihat kondisiku yang setengah menggigil itu. Padahal sebelum pertemuan ini, kita juga sudah sering melakukan perjamuan rindu. Ah sudahlah, bakso enak langgananku berubah jadi hambar di mulut. Di perjalanan pulang, tanpa satu kata terucap. Lidahku keluh, aku ingin meminta maaf jika ku selalu meluapkan kemarahanku, selalu merasa benar, dan ego yang berapi-api. Tapi nyatanya, egoku tetap menang atas semua itu. Aku tidak mengucapkan kalimat yang tertahan di pikiranku, hingga aku memberanikan diri untuk meminta maaf melalui pesan yang ku kirim padamu.


Sebenarnya aku tidak ingin perdebatan kita menjadi menggebu, aku hanya ingin menenangkan diriku sejenak, cukup kasih aku waktu. Karena bagiku tidak semua permasalahan bisa diselesaikan hanya sekali duduk. Otak kita juga butuh untuk diredakan. Jangan sampai hanya ego yang kita pelihara satu sama lain. Tenang saja, ketika aku sudah tenang, aku akan kembali padamu. Seperti yang saat ini ku lakukan, aku mencoba meluapkan apa yang ada dalam isi hatiku.


Terima kasih Untukmu

Satnight yang Kesekianku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coretan Usang

Cie Flashback ciee, ini tulisan sudah dulu banget, waktu masih mengenakan putih abu-abu. Apalah dayaku yang sekarang sudah kepala dua, semoga tulisan ini mampu bermanfaat bagi sesama, dan maaf bila ada salah kata. Asingkan Tikus Berdasi itu ! Salam sejahtera bagi kita semua, perkenalkan nama saya Choiriyah Sapta Agustina. Saya adalah siswi kelas X IPA di salah satu SMA Lamongan. Sebelum saya mengutarakan segala unek-unek saya. Perkenankan saya untuk mengutarakan satu pertanyaan saja, khususnya untuk para pejabat negara. Adakah perbedaan antara Indonesia sekarang dan Indonesia yang dulu ? Mungkin bapak, ibu sekalian akan menjawab, tentu ada. Indonesia yang sekarang itu lebih .... bla .. bla ..bla. jawaban itu ditinjau dari segi apa pak ? apa bapak tidak pernah menengok tangan-tangan panjang itu menggerogoti Indonesia kita. Para tikus berdasi itu pak, dengan tenangnya memanjakan diri mereka dengan kelimpahan harta, yang seharusnya bukanlah hak mereka. Atau memang bapak...