Cie Flashback ciee, ini tulisan sudah dulu banget, waktu masih mengenakan putih abu-abu. Apalah dayaku yang sekarang sudah kepala dua, semoga tulisan ini mampu bermanfaat bagi sesama, dan maaf bila ada salah kata.
Asingkan Tikus Berdasi
itu !
Salam
sejahtera bagi kita semua, perkenalkan nama saya Choiriyah Sapta Agustina. Saya
adalah siswi kelas X IPA di salah satu SMA Lamongan. Sebelum saya
mengutarakan segala unek-unek saya. Perkenankan saya untuk mengutarakan satu
pertanyaan saja, khususnya untuk para pejabat negara.
Adakah
perbedaan antara Indonesia sekarang dan Indonesia yang dulu ?
Mungkin
bapak, ibu sekalian akan menjawab, tentu ada. Indonesia yang sekarang itu lebih
.... bla .. bla ..bla. jawaban itu ditinjau dari segi apa pak ? apa bapak tidak
pernah menengok tangan-tangan panjang itu menggerogoti Indonesia kita. Para
tikus berdasi itu pak, dengan tenangnya memanjakan diri mereka dengan
kelimpahan harta, yang seharusnya bukanlah hak mereka. Atau memang bapak sudah
kebal dengan berita-berita di televisi yang menayangkan hal serupa.
Astaugfirullah pak, perbuatan mereka sudah sangat keji. Lalu apa perbedaanya
antara Indonesia sekarang dengan Indonesia yang dulu pak ?
Semuanya
sama, Indonesia yang sejak dulu dijajah secara halus oleh para koruptor,
Indonesia yang dengan ketidaktegasannya membasmi penjajah itu. Sama halnya
dengan sekarang pak, bayangkan saja koruptor yang mencuri uang ratusan milyar
bahkan triliun, mendekam di jeruji besi dengan fasilitas yang memuaskan. Mereka
yang dalam sekian bulan atau bahkan sekian hari mampu melakukan touring keluar
negeri dengan bebasnya. Sungguh enak
sekali yah pak, mereka-mereka yang meraup harta Indonesia bahkan mampu membeli
keadilan Indonesia dengan harta curiannya. Itukah negeri Indonesia ? coba bapak
bandingkan perbuatan mereka dengan perbuatan para pencuri amatiran, katakan
saja pencuri sandal masjid. Lantas
dimanakah payung hukum itu ada?
Mereka
sama-sama tertangkap pak. namun ironisnya Indonesia malah menjatuhi hukuman
yang bisa dikatakan lebih berat kepada pencuri amatiran tersebut. Apa pak yang
membuat adanya sekat dalam keadilan ini ? bukankah keadilan itu umum dan hak
siapa saja ? Memang, keduanya adalah perbuatan yang tercela jika ditinjau dari
segi agama. Tapi bapak tahu,
norma-norma agama yang ada di masyarakat mungkin hanya dianggap angin lalu bagi
para koruptor itu pak, nah, karena norma agama ini tidak terikat, seharusnya
hukum mampu maju selangkah di
depannya,
dalam artian tidak melanggar syariat
loh pak. Selangkah di depanya, itu bermaksud agar norma hukum dijatuhkan lebih tegas dan
seadil-adilnya, tanpa pandang bulu.
Menurut
saya Indonesia selama ini belum sepenuhnya merdeka pak, kita baru di gerbang
kemerdekaan. Kalau bapak tidak percaya, akan saya kutipkan sebait alenia dari
UUD kita tercinta.
Bahwa sesungguhnya
kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu penjajahan harus
dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Dan
perjuangan pergerakan Indonesia telah sampailah di gerbang kemerdekaan
negara Indonesia ...
Sebait alenia di atas maknanya dalam
banget loh pak, saya coba kritik satu persatu ya pak ! pertama, kemerdekaan itu
adalah hak segala bangsa, memang benar pak, sangat benar. Coba kita flashback
masa lampau, dan kita lihat perjuangan para pahlawan yang dengan mati-matian
berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Seharusnya perjuangan yang demikian itu
tidak semata-mata angin lalu pak, sekarang pun Indonesia butuh sosok-sosok
pahlawan. Bukan pahlawan untuk perang pak, melainkan pahlawan untuk mengusir
penjajah tikus berdasi itu. Bagaimana tidak, dunia saja mengakui bahwa
Indonesia menduduki peringkat ke empat negara terkerup, peringkat ke empat pak
! dan bapak hanya tersenyum saja dalam menanggapinya ? ayo pak, mulai sekarang
perbaiki citra Indonesia dimata dunia, tangkap para koruptor itu, jebloskan
mereka ke dalam jeruji besi. Tuntut mereka dengan adil. Saya yakin bapak bisa,
pasti bisa. Selamat berjuang pak !
Terima kasih pak karena telah
mendengar keluh kesah saya, maaf jika ada kata-kata yang salah.
Komentar