Sabtu ini, ku kira akan ada sinar baru yang mewarnai sudut hatiku. Aku bertemu denganmu dengan seutuhnya perasaan terbaikku. Kamu bertanya ke mana arah perjalanan kita berlabuh. Aku pun tak tahu, biarkan angin yang membawa kita jauh berkelana. Perjalanan demi perjalanan usai, langkah kita terhenti pada jejeran bakau di tepi pantai. Kita berjalan menyusuri setapak yang di sisi kiri dan kanan hanya berjumpa dengan hewan-hewan kecil penghuni tumbuhan bakau. Tawa renyah masih terukir di bibir manis kita, hingga tak terasa perjalanan mengantarkan langkah kita di ujung pintu. Kita makan dan bercengkerama hampir 30 menit lamanya. Ada yang ingin ku ceritakan padamu, aku senang dengan pertemuan kita. Aku bisa meluapkan seluruh ocehanku yang melebihi kicauan pipit di pagi hari. Waktu mengantarkan kita pada pukul satu siang. Tepat di sekitar rentetan bakau, kita temui tempat peristirahatan yang menyerukan. Ada tempat pemancingan ikan disana. Entah ini yang kesekian kalinya aku meng...
Hari itu, kamu membuat pertahananku runtuh. Aku yang selama ini berusaha untuk mempertahankan hubungan, mencoba untuk membangun kesetiaan, merajut kasih bersama. Lenyap seketika, ketika dirimu berucap bahwa tak lagi menaruh rasa padaku. Ketidaknyamanan atas diriku, kamu jadikan alasan untuk beralih rasa kepada lainnya. Entah ini salah siapa, aku yang tak mengerti dirimu atau kamu yang memang selalu tak merasa puas dengan pasanganmu. Lidahku keluh saat itu, bahkan untuk mendengar alasanmu rasanya telingaku sudah bebal. Bagaimana bisa, beberapa hari sebelumnya kita masih bisa tertawa bersama tanpa ada masalah. Lalu tiba-tiba kabar itu muncul senter dari mulutmu. Tak bisa ku menduga atas sikapmu, bukan karena ku mencari pembelaan atas sikapku yang membuatmu menjadi tak nyaman. Tapi bukankah ketidaknyamanan tidak bisa dijadikan pembenaran atas cheating dengan orang lain. Sejak kapan? Bagaimana? Kenapa? Dengan siapa? Ada banyak sekali pertanyaan bergemuruh di otak dan...