Muara Di
atas Muara
(Choiriyah Sapta Agustina)
“Seperti muara yang menyeruak senja, di sudut ria
selalu ada sesimpul tawa. Takkan ada lelah mengurai kata, untukmu muara di atas
muara”
Setiap
manusia terlahir dari muara yang sempurna,
atas kehendak Dzat
yang lagi Maha Sempurna. Muara, tempat dimana sebarang hati meleraikan rasa.
Tak peduli siang-malam, hitam-putih, canda ataupun duka. Di sana ada cinta yang
mekar merona bak seonggok mawar merekah. Muara laksana sosok ibu, lembur
tuturnya menjuntai cakrawala. Ibu mampu menumbuh-kembangkan makna dan euforia
dari sebuah kata cinta. Meski jarak terkadang menjadi jurang pemisah
tersampaikannya cinta.
Tiga puluh hari tak mengadakan perjamuan rindu. Daksa ini
khawatir rindu semakin kaku dan tak bisa dinikmati dengan hangat meski dalam
dekat lekat. Ingin aku pulang ke dalam rengkuhan sayupmu, tapi keadaan berkata
lain. Kala mengingatmu di hening malam nan dingin ini, serasa getar rindu
semakin membelenggu. Bayangmu pun hadir menjelma di pelupuk mata, mengalungi
setiap alunan cerita. Semua yang ada pada diri seorang
Ibu mampu menorehkan guratan cinta, kasih sayangnya bagaikan air mata yang
bening tak ternoda. Di pundaknya lah jiwa-jiwa ini meleraikan segala lelah dan
keluh kesah, hingga tiba saatnya lelah itu berbaur dalam dekapan hangatnya.
Senyum manis selalu tersungging di bibir mungilnya itu, menebarkan sejuta
kedamaian yang abadi. Jasa Ibu sangatlah berarti bagi kita semua.
Muara di atas muara, sama halnya dengan Ibu di atas Ibu.
Setiap insan terlahir dari rahim malaikat tanpa dosa. Oleh karenanya, sangat
wajar jika seseorang menganggap bahwa Ibunya lah yang paling luar biasa dan
hanya Ibunya muara di atas muara. Tak ada kata yang mampu mewakili pencitraan
seorang Ibu. Kasih sayang ibu sangat tak terbatas dari mulai minus tak hingga sampai
plus tak hingga. Namun, anehnya seseorang di masa sekarang ini cenderung
mengungkapkan rasa cinta kasihya pada Ibu hanya berkutat di angka 22. Pantaskah
pengorbanan Ibu terbalaskan hanya di 22 Desember? Tidak, sekali lagi tidak, jika
hanya secuil masa untuk mengutarakan cinta. Bahkan meski berabad-abad lamanya
tak akan ada kata cukup untuk mengekspresikan gejolak cinta, cinta untuk Muara
di atas muara.
Semakin
bertambahnya usia terkadang memicu adanya sekat antara anak dengan Ibunya.
Cinta Ibu mungkin akan tetap sama, namun seorang anak yang telah beranjak
remaja atau bahkan dewasa terkadang harus membagi cinta untuk Ibunya,
cita-citanya, bahkan untuk pendampingnya kelak. Apalagi jika keinginan seorang
anak menggelegak untuk hidup berpisah dari Ibunya.
Hujan, ada harapan kebagiaan yang tiada kira katanya.
Namun, nyatannya jiwa ini masih rapuh dan terus tergerus dalam derai hujan. Mungkin karena hujan tahu ada cinta yang sejatinya
terhalang tembok pemisah, meski sang pemain cinta memandang langit yang sama.
Masa saat ini sangat jauh berbeda saat kita melangkah bersama. Kehidupan begitu
keras tanpa hadirmu. Ibu yang selalu menuntun kemana kaki melangkah. Namun
perlahan jejak itu memudar, hingga tak bersisa. Tetapi di balik itu semua,
masih ada hati yang merasa, serta masih ada nilai-nilai yang tetap melekat di
jiwa.
Ibu memiliki tekad yang kuat dalam mengarungi derasnya
arus kehidupan. Ambisinya tetap berkobar, meskipun di usianya yang sekarang.
Beliau ingin mewujudkan apa yang seharusnya diwujudkan dan semua yang belum
tercapai semasa ia dulu. Ibu sering kali mengulas kisah-kisah hidupnya dahulu
pada anak-anaknya. Entah itu masa-masa yang sangat sulit baginya ataupun
masa-masa emasnya. Semua itu agar sang anak mengetahui makna dari suatu
kehidupan dan memahami arti penting dari pengalaman.
Seseorang pernah berkata bahwa Ibu yang baik tidak
hanya menjadi Ibu bagi sang anak, tetapi juga menjadi teman, sahabat, dan
saudara bagi anaknya. Ibu mampu menempatkan dirinya sesuai situasi dan kondisi
dari keluarganya. Namun, dengan semua beban berat di pundaknya tak membuat ia
lelah atau bahkan mengeluh. Itulah mengapa dalam Al-Qur’an sendiri seorang Ibu
keutamaannya adalah tiga kali dari seorang ayah. Disini bukan berarti citra
seorang ayah direndahkan. Memang ayah adalah imam keluarga, pencari nafkah,
serta pengayom dari anak dan istrinya. Akan tetapi, ketika seorang memahami
tiga hal yang merupakan kepayahan yang dialami oleh seorang Ibu, yakni ketika
hamil, melahirkan, dan menyusui mereka akan mengerti bagaimana susahnya tugas
dari seorang Ibu. Usahanya saat mengandung sembilan bulan, melahirkan serta
mengasuh anak hingga tumbuh dewasa dan menjadi manusia hebat sungguh sangat
luar biasa. Mengandung merupakan hak yang sangat menyita energi seorang Ibu.
Bagaimana tidak? Selama sembilan bulan seorang Ibu harus menyokong berat
tubuhnya yang berkembang hingga dua kali lipat. Belum lagi saat anak mulai
menendang-nendang di dalam perutnya. Ia harus menahan sakit dan pegal di
seluruh badannya. Bahkan untuk tidurpun ia tak selelap biasanya. Subhanaalah,
begitu mulia jasa seorang Ibu.
“Surga
di bawah telapak kaki Ibu”, sangat klise jika seseorang mencintai Ibunya hanya
untuk menggapai Surga yang telah dijanjikan oleh Sang Maha Kuasa. Cinta adalah
menyayangi dengan semurni dan setulus hati, bukan untuk mengharapkan sebuah
imbalan atau janji. Berbicara Surga, semua orang pasti tahu dibalik kemilaunnya
Surga ada usaha untuk meminimalisir dosa, baik dosa kepada Ibu, dosa kepada
sesama maupun dosa kepada Pencipta. Jika dihitung, mungkin dosa hamba yang
lemah ini tak terkira adanya. Terutama dosa kepada Ibu tercinta.
Ibu, beri aku kesempatan untuk menangis
dan bersimpuh di kakimu.
Terima kasih atas kasihmu yang tak lekang oleh waktu.
Terima kasih karena Ibu masih bisa menari walau di atas
luka yang menganga.
Komentar