Hari itu, kamu membuat pertahananku runtuh. Aku yang selama ini berusaha untuk mempertahankan hubungan, mencoba untuk membangun kesetiaan, merajut kasih bersama. Lenyap seketika, ketika dirimu berucap bahwa tak lagi menaruh rasa padaku. Ketidaknyamanan atas diriku, kamu jadikan alasan untuk beralih rasa kepada lainnya. Entah ini salah siapa, aku yang tak mengerti dirimu atau kamu yang memang selalu tak merasa puas dengan pasanganmu.
Lidahku keluh saat itu, bahkan untuk mendengar alasanmu rasanya telingaku sudah bebal. Bagaimana bisa, beberapa hari sebelumnya kita masih bisa tertawa bersama tanpa ada masalah. Lalu tiba-tiba kabar itu muncul senter dari mulutmu. Tak bisa ku menduga atas sikapmu, bukan karena ku mencari pembelaan atas sikapku yang membuatmu menjadi tak nyaman.
Tapi bukankah ketidaknyamanan tidak bisa dijadikan pembenaran atas cheating dengan orang lain. Sejak kapan? Bagaimana? Kenapa? Dengan siapa? Ada banyak sekali pertanyaan bergemuruh di otak dan pikiranku. Namun, aku lebih memilih menyembuhkan hatiku dengan menjauh darimu. Sudah cukup selama ini ku bertahan atas sikapmu.
Apa pernah ku mencampuri privasimu? Apa pernah aku mengekangmu ini itu? Sejauh apapun salahmu, selalu ada kata maaf untukmu dulu. Jika kita menilik masa lalu, kepercayaanku sudah berkali kali kamu hancurkan. Tapi lagi lagi selalu ku menerima kesalahanmu, berharap ada perubahan dari diri manusia yang sedang ada di hadapanku.
Saat ini, entah ku bingung mengartikan rasaku untukmu. Masih berbekas? Pasti, namun untuk menangis pun rasanya air mataku memberontak untuk menetes satu per satu. Kita sudah jalan berlainan arah, kamu dengan dunia barumu sekarang. Dan aku yang masih merangkak pergi menjauh. Semesta juga tahu, waktu akan menyembuhkan luka. Namun saat ini, luka ku masih menganga. Seakan siap untuk ditaburkan garam di atasnya.
Atas dasar itu, ku memilih untuk menutup semua akses yang membuat hatiku rapuh. Untukmu, yang saat ini tengah berbagia dengan wanita pilihanmu. Selamat, kamu mungkin telah menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria mu. Semoga kamu selalu bahagia atas dirimu.
Jangan khawatir, ku sudah memaafkan segala kesalahanmu, dan segala kesalahan kita di masa lalu. Kenangan itu akan tertata rapi di sudut yang tak akan pernah ku sentuh lagi. Bahagiakan wanitamu saat ini, jangan sia-siakan lebih banyak lagi hati. Aku ikut berbahagia atas dirimu.
Terima kasih, masa laluku
Komentar