Langsung ke konten utama

Di Sudut Kenangan

Hari itu, kamu membuat pertahananku runtuh. Aku yang selama ini berusaha untuk mempertahankan hubungan, mencoba untuk membangun kesetiaan, merajut kasih bersama. Lenyap seketika, ketika dirimu berucap bahwa tak lagi menaruh rasa padaku. Ketidaknyamanan atas diriku, kamu jadikan alasan untuk beralih rasa kepada lainnya. Entah ini salah siapa, aku yang tak mengerti dirimu atau kamu yang memang selalu tak merasa puas dengan pasanganmu.  

Lidahku keluh saat itu, bahkan untuk mendengar alasanmu rasanya telingaku sudah bebal. Bagaimana bisa, beberapa hari sebelumnya kita masih bisa tertawa bersama tanpa ada masalah. Lalu tiba-tiba kabar itu muncul senter dari mulutmu. Tak bisa ku menduga atas sikapmu, bukan karena ku mencari pembelaan atas sikapku yang membuatmu menjadi tak nyaman.  

Tapi bukankah ketidaknyamanan tidak bisa dijadikan pembenaran atas cheating dengan orang lain. Sejak kapan? Bagaimana? Kenapa? Dengan siapa? Ada banyak sekali pertanyaan bergemuruh di otak dan pikiranku. Namun, aku lebih memilih menyembuhkan hatiku dengan menjauh darimu. Sudah cukup selama ini ku bertahan atas sikapmu.  

Apa pernah ku mencampuri privasimu? Apa pernah aku mengekangmu ini itu? Sejauh apapun salahmu, selalu ada kata maaf untukmu dulu. Jika kita menilik masa lalu, kepercayaanku sudah berkali kali kamu hancurkan. Tapi lagi lagi selalu ku menerima kesalahanmu, berharap ada perubahan dari diri manusia yang sedang ada di hadapanku.  

Saat ini, entah ku bingung mengartikan rasaku untukmu. Masih berbekas? Pasti, namun untuk menangis pun rasanya air mataku memberontak untuk menetes satu per satu. Kita sudah jalan berlainan arah, kamu dengan dunia barumu sekarang. Dan aku yang masih merangkak pergi menjauh. Semesta juga tahu, waktu akan menyembuhkan luka. Namun saat ini, luka ku masih menganga. Seakan siap untuk ditaburkan garam di atasnya.  

Atas dasar itu, ku memilih untuk menutup semua akses yang membuat hatiku rapuh. Untukmu, yang saat ini tengah berbagia dengan wanita pilihanmu. Selamat, kamu mungkin telah menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria mu. Semoga kamu selalu bahagia atas dirimu. 

Jangan khawatir, ku sudah memaafkan segala kesalahanmu, dan segala kesalahan kita di masa lalu. Kenangan itu akan tertata rapi di sudut yang tak akan pernah ku sentuh lagi. Bahagiakan wanitamu saat ini, jangan sia-siakan lebih banyak lagi hati. Aku ikut berbahagia atas dirimu. 

Terima kasih, masa laluku 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coretan Usang

Cie Flashback ciee, ini tulisan sudah dulu banget, waktu masih mengenakan putih abu-abu. Apalah dayaku yang sekarang sudah kepala dua, semoga tulisan ini mampu bermanfaat bagi sesama, dan maaf bila ada salah kata. Asingkan Tikus Berdasi itu ! Salam sejahtera bagi kita semua, perkenalkan nama saya Choiriyah Sapta Agustina. Saya adalah siswi kelas X IPA di salah satu SMA Lamongan. Sebelum saya mengutarakan segala unek-unek saya. Perkenankan saya untuk mengutarakan satu pertanyaan saja, khususnya untuk para pejabat negara. Adakah perbedaan antara Indonesia sekarang dan Indonesia yang dulu ? Mungkin bapak, ibu sekalian akan menjawab, tentu ada. Indonesia yang sekarang itu lebih .... bla .. bla ..bla. jawaban itu ditinjau dari segi apa pak ? apa bapak tidak pernah menengok tangan-tangan panjang itu menggerogoti Indonesia kita. Para tikus berdasi itu pak, dengan tenangnya memanjakan diri mereka dengan kelimpahan harta, yang seharusnya bukanlah hak mereka. Atau memang bapak...

Sad Story

  Sabtu ini, ku kira akan ada sinar baru yang mewarnai sudut hatiku. Aku bertemu denganmu dengan seutuhnya perasaan terbaikku. Kamu bertanya ke mana arah perjalanan kita berlabuh. Aku pun tak tahu, biarkan angin yang membawa kita jauh berkelana. Perjalanan demi perjalanan usai, langkah kita terhenti pada jejeran bakau di tepi pantai. Kita berjalan menyusuri setapak yang di sisi kiri dan kanan hanya berjumpa dengan hewan-hewan kecil penghuni tumbuhan bakau. Tawa renyah masih terukir di bibir manis kita, hingga tak terasa perjalanan mengantarkan langkah kita di ujung pintu. Kita makan dan bercengkerama hampir 30 menit lamanya. Ada yang ingin ku ceritakan padamu, aku senang dengan pertemuan kita. Aku bisa meluapkan seluruh ocehanku yang melebihi kicauan pipit di pagi hari.   Waktu mengantarkan kita pada pukul satu siang. Tepat di sekitar rentetan bakau, kita temui tempat peristirahatan yang menyerukan. Ada tempat pemancingan ikan disana. Entah ini yang kesekian kalinya aku meng...